Jalan-jalan di Palembang


Beberapa waktu lalu, alhamdulillah saya ada kesempatan untuk tinggal beberapa minggu di daerah palembang, perjalanan naik pesawat dari bandara Soeta jam 4 sore sampe di bandara Sultan Mahmud Badaruddin jam 5 sore, kesan pertama menginjakan kaki di kota asal pempek itu adalah udaranya, beda banget sama udara Jakarta walaupun tetap sedikit gerah, perjalanan dilanjutkan menuju tempat tinggal sekitar 2 jam ke arah Jambi tepatnya di kota Betung, kabupaten Banyuasin- Palembang. Selama perjalanannya cukup membosankan karena hari sudah gelap jadi ga bisa melihat pemandangan lingkungan sekitar, hanya bayangan hitam puhon dan semak2 sepanjang jalan, jalanannya pun cendrung lurus mendatar dan berlubang.
Awalnya aga heran juga kok dinamakan Banyuasin (Air Asin dalam bahasa jawa) tapi setelah tinggal beberapa hari disana saya baru mengerti ternyata air sumurnya jika musim kering terkadang sedikit asin seperti air mata/payau walaupun lokasinya jauh dari pantai, kok bisa?? Setelah google-ing ternyata topografi tanah daerah palembang relatif datar dan rendah. Hanya sebagian kecil wilayah kota yang tanahnya terletak pada tempat yang agak tinggi, yaitu pada bagian utara kota. Sebagian besar tanah adalah daerah berawa sehingga pada saat musim hujan daerah tersebut tergenang. Ketinggian rata-rata antara 0 – 20 m dpl. Jenis tanah kota Palembang berlapis alluvial, liat dan berpasir, terletak pada lapisan yang paling muda, banyak mengandung minyak bumi, yang juga dikenal dengan lembah Palembang – Jambi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palembang)
Di daerah betung datarannya cendrung berbukit, banyak perkebunan kelapa sawit dan karet. Kotanya kecil cukup rame, fasilitas umum cukup (ada masjid, kantor pos, PDAM, bengkel, bank negeri & daerah, rumah makan, mini market, pasar tradisional, internet GSM sudah bagus walau ga secepat di Jakarta) cuma saya masih kesulitan mencari variasi barang yang di jual baik makanan maupun fashion dan ATM bank swasta, jadi deh setiap ngambil uang selalu kena potongan. Ada tempat jajanan yang enak, bakso dan es campur di depan patung polwan di sebelah kanan jalan arah jambi. Makanan lainnya kurang istimewa di lidah saya.
Setelah sekian lama di betung akhirnya bisa jalan2 ke kota Palembang, kebetulan di ajak rekan menghadiri pernikahan saudaranya. Sebagai kota tua yang strategis, yang kerap di masuki pendatang menjadikan kota ini sebagai kota multi budaya. Dalam pernikahan tersebut yang cukup berkesan yaitu saat pemberiaan nama gelar untuk pengantin yang memakai gelar Raden, seperti gelar di daerah Jawa.
Pulang dari acara pernikahan saya dan kawan berkeliling kota Palembang, yang pertama kali yang ingin kami kunjungi yaitu Sungai Musi. Sungai terpanjang di pulau Sumatera, sepanjang sekitar 750 km yang membelah 2 daerah Palembang. Di pinggir sungai musi banyak objek wisata yang bisa kita kunjungi seperti

Jembatan Ampera
Jembatan megah sepanjang 1.177 meter yang melintas di atas Sungai Musi menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir ini, dibangun pada tahun 1962 dengan menggunakan harta rampasan Jepang serta tenaga ahli dari Jepang. Konon jembatan ini bisa di angkat/difungsikan sebagai gerbang/portal untuk kapal besar yang ingin memasuki & keluar kota Palembang. Cuma saat ini sudah tidak di fungsikan lagi.

Benteng Kuto Besak
Terletak di tepian Sungai Musi dan berdekatan dengan Jembatan Ampera, Benteng ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Di bagian dalam benteng terdapat kantor kesehatan Kodam II Sriwijaya dan rumah sakit. Benteng ini merupakan satu-satunya benteng di Indonesia yang berdinding batu dan memenuhi syarat perbentengan / pertahanan yang dibangun atas biaya sendiri untuk keperluan pertahanan dari serangan musuh bangsa Eropa dan tidak diberi nama pahlawan Eropa (http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palembang)

Benteng Kuto Besak


Benteng Kota Besak 1

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Terletak di dekat Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1823 dan selesai pada tahun 1825, untuk rumah resmi residen Belanda di Palembang. Dulunya daerah ini merupakan istana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, dikenal sebagai Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1737. Setelah kalah pertempuran ke Belanda pada tahun 1821, istana itu hancur dan Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan. Fungsi bangunan ini berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan dinamika lokal. Hal ini pernah digunakan sebagai markas Jepang selama invasi Jepang, markas TNI pada tahap awal kemerdekaan Indonesia, sebuah kantor pemerintah daerah dan akhirnya sebuah museum. Didalamnya terdapat banyak benda bersejarah Kota Palembang seperti arca Ganesha masa peninggalan kerajaan Sriwijaya.

Museum SMB


Museum Sultan Mahmud Badarudin II

Pasar 16 Ilir
Terletak di pinggir sungai Musi, dari dahulu sungai merupakan jantung perekonomian masyarakat Palembang dan pembentuk budaya sungai (River culture). Rakyat dari hulu dan hilir Sungai Musi membawa hasil alam dan menjualnya di sepanjang tepian sungai ini dengan menggunakan perahu kajang, berkumpul dan membuat hamparan di lokasi ini, kemudian berkembang hingga pembangunan petak permenen. Pasar ini diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Aktivitas perdagangan, yang sesungguhnya sudah dimulai pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Saat ini pasar 16 illir lebih mirip pasar tanah abang di jakarta, sebagai pusat grosir pakaian, penjualan kerajinan tenun songket, dan banyak jajanan pasar lainnya seperti makanan tradisional pempek dan otak-otak.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II
Terletak di pusat Kota Palembang, masjid ini merupakan masjid terbesar di Sumatera Selatan dengan kapasitas 15.000 jemaah. Arsitekturnya sangat unik atap seperti masjid demak di jawa, ditambah ornamen china di ujung-ujung gentengnya dan bentuk menara sehingga mirip kaya kelenteng, dinding, jendela dan pilar beton yang besar mirip dengan arsitektur eropa. Keempat sisi bangunan masjid dilengkapi empat teras tempat pintu masuk, kecuali dibagian barat yang merupakan mihrab. Arsitektur teras tersebut mengambil bentuk klasik Dorik seperti pada bagian depan dari kuil Yunani di Eropa.(http://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudding II


Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan dua bentuk. dari bangunan baru dan lama, plus dua menara dari dua masa yang berbeda.

Jika hanya untuk jalan-jalan mengitari kota palembang, disana sudah ada transmusi, model bus way di jakarta, ada sistem transit tetapi karena shelternya tidak di tengah maka kita tidak bisa pulang/balik arah tanpa keluar shelter dan menyebrang terlebih dahulu lalu naik ke arah sebaliknya. Berikut ini rute koridor transmusi :
1. Koridor I, melayani rute Palembang Indah Mall-Sako.
2. Koridor II, melayani rute Ampera-Alang-Alang Lebar.
3. Koridor III, sebelumnya melayani rute Palembang Square Mall-Jakabaring, kini jadi PS Mall-Plaju. (berubah pada april 2011)
4. Rute di koridor IV. Sebelumnya koridor ini melayani Plaju-Karya Jaya-Jakabaring, sekarang rutenya Kertapati-Karya Jaya-Jakabaring. Transit Transmusi tetap di persimpangan dekat gedung DPRD Palembang.(berubah pada april 2011)
5. Di koridor V, yang tadinya melayani rute Bandara Baru (Bandara SMB II)-Alang-Alang Lebar, kini diubah jadi Bandara Baru-Bandara Lama, dan transit di Halte Universitas Global Mandiri.(berubah pada april 2011)

One Response to “Jalan-jalan di Palembang”

  1. winnymarch Says:

    pelembang memang top.
    dak ado matinyo.

    salam kenal gan.

    btw kunjungi blog ane jugo gan dan tingalin komen!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: